Bukan Bayangan

Di depan cermin, pukul 18.30.

Aku mulai menatap matanya, lalu menunduk
Lalu menatap gerak bibirnya, dan kembali menunduk
Gugup dan gemetaran ini badan

Sepuluh menitnya, mulut kita mulai terbiasa saling bercerita
Keluhan-keluhanmu, asumsiku, sumpah serapahmu, juga rahasiaku.

Tentang nasib kita yang sama ..
“Jangan khawatir!” katamu
Kita bisa beli mulut mereka sepuluh tahun lagi.

Tentang nasib kita yang sama ..
“Jangan menangis!” kataku
Kita bisa beli mulut mereka sepuluh tahun lagi.

Ngawi, 2 Oktober 2014

Lintang Kemukus

Bismillah .. Assalamu’alaikum sang ghaib ..

Semoga engkau senantiasa sehat.
Dari aku yang memiliki hal ini,
hal yang juga ada di dalam dirimu.
Dari kesamaan yang kita miliki,
atau mungkin juga tidak sama sekali.
Tak masalah bagiku,
Karena semua ini hanyalah gelombang-gelombang.
Anggaplah aku yang sedang menyamakan frekuensinya.

Untuk Lintang Kemukusku, yang senantiasa ghaib.

Ngawi, 26 September 2014. Pukul 3:33

Dalam Satu Tahun Mengemban Kewajiban

Kita adalah satu, kita adalah sama. Satukan semangat kita, layaknya serangkaian rantai baja.

Ini merupakan postingan lanjutan dari tulisan yang dibuat satu tahun yang lalu dengan judul Menjemput Agustus dengan Amanah. Rasanya sedikit bagaimana gitu, “Eh, ternyata sudah satu tahun berlalu, cepat, singkat, padat namun banyak sekali kejadian-kejadian, momen serta pengalaman.”

Lega rasanya menanggalkan satu kewajiban yang diberikan satu tahun lalu, meskipun mungkin dalam satu tahun ini saya banyak sekali melalukan kesalahan, banyak sekali menyakiti hati, dan banyak sekali memberikan contoh yang kurang baik, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga dalam satu tahun kedepan akan jauh lebih baik dari pada hari ini. aamiin ..

Kembali dari Hutan

Ketika aku turun dari hutan, sejenak aku binggung dengan keadaan di kota. Aku pulang seperti biasa dengan Mio Sporty tahun 2008ku yang masih oke, tak lupa juga aku harus mengantar Nyai pulang ke rumah, dengan uang saku darinya untuk beli bensin aku lanjutkan perjalanan menuju Ngawi dengan perasaan riang gembira.

Sesampainya di SPBU, bergegas aku menyodorkan uang Rp 10.000 kepada petugas sambil berkata, “Sepuluh, mas.” We…lha dala.. kok perasaan cuma dapet ‘sak crit’. Wah .. gak beres ini SPBU, maunya aku laporkan, tapi ternyata tidak ada nomor pengaduan.

Rasa penasaran masih menyelimuti pikiran, jangan jangan ada jangan jangan. Sengaja aku tidak langsung tancap gas, berusaha melirik deretan angka digital di alat pompa, jrenggg….!! 6.500 …

Sial, BBM sudah naik..